Friday, December 14, 2012

might will and going to

i am going to be a journalist

i will be a journalist

i might be a journalist in the future


tadi belajar ini di ilp. kalo going to itu fix plan. kalo will yaaah ada keyakinan lah dikit dikit. kalo might itu, asal ceplos. asal keluar dari mulut aja bukan dari hati.

kalo kata journalist buat lu itu ada di posisi mana tan?

damn

gatau

gua bingung sama mimpi gua sendiri. harus diterusin atau gimana sih ini? pengen serius disini cuma gak yakin. pandangan gua tentang jurnalistik mungkin keren. someone with camera, handnotes, chasing something, deadline. but how about there? katanya banyak jurnalis dibunuh, disekap, diculik. gue takut. jujur gue belum berani gambling masa depan yang gua punya buat mimpi gua yang satu ini. entah kenapa ini bikin nyesek:

a: mama pengennya kakak kuliah dimana?
m: mama sih pengennya itb, teknik lingkungan. itu pengennya mama aja. kamu sih terserah

yang jadi masalah adalah terserahnya sampe mana? ibu gue ga bilang mendukung dan ga bilang ga mendukung tapi malah bilang terserah. itu kan ambigu -_-
menggalaui jurusan waktu itu di angkot sambil ujan-ujan. bicara tentang masa depan. kemungkinan psikologi unpad, sbm itb, komunikasi, sastra inggris. yah, terkadang terlalu banyak pilihan sama pusingnya dengan tidak punya pilihan.

asik kan keliatannya? takutnya keliatannya doang. tapi sempet terhasut jurnalistik gara gara expo waktu itu fufufu

bingung ah sama mimpi, sama masa depan. yang jelas pengen liat aurora borealis langsung di langing. harus lah pokoknya.
oh iya, ngomong ngomong tentang mimpi, gua pernah ngomongin film 5 cm dengan temen gue dan begini percakapannya:

p: jadi 5 cm itu lu harus taroh mimpi lu 5 cm di depan mata lu
f: nanti gua bikin film yang versi 5 m ah
p: sekalian aja 5 mm, ngegantung tuh di kelopak mata
gue: kalo mimpi lu besar dan lu taroh 5 mm di depan mata, seluruh dunia akan tertutup buat lu. dunia lu ya cuma lu dan mimpi mimpi lu. karena mimpi itu menutup mata lu, jadinya lu gabisa liat yang lainnya. cuma mimpi lu aja, bahkan realita pun ga keliatan
(p dan f diem)

entah gue yang terlalu sarkasme dengan mimpi atau gimana, yang jelas buat gue

bermimpi itu sulit, lebih sulit dari menyadari realita 

No comments:

Post a Comment