Thursday, December 25, 2014

change

pada akhirnya kita akan menertawakan banyak hal.

mungkin lebih banyak menertawakan diri sendiri. tentang keluhan keluhan tak masuk akal. tentang kemalasan. tentang mimpi yang terlalu tinggi. tentang rencana-rencana yang sudah disusun sedemikian rupa namun pada akhirnya malah tidak terjadi sama sekali. tentang target-target yang terbengkalai. tentang tingkah laku bodoh yang dilakukan. tentang bersikap seolah dewasa, seolah bijak, seolah paling tahu, padahal ilmu dan pengalaman tidak sampai seujung kuku. 

mungkin tulisan ini akan saya tertawakan pada akhirnya. 

hidup itu perubahan. manusia berubah. siapa yang tidak?

manusia merupakan bagian dari fenomena geosfer -antroposfer- yang selalu bersifat dinamis. oke efek mau uas. abaikan. 

tapi serius, siapa yang tidak berubah?

lingkungan yang berbeda membuat kita berdaptasi dengan sekitar kita. menyesuaikan diri. ya, hukum alam kan adaptasi itu? sadar atau tidak sadar proses itu merubah kita entah secara baik atau buruk. bisa jadi, kita menjadi lebih serius dalam menghadapi banyak hal. atau malah kita makin menganggap dunia ini sebagai lelucon, apa apa dianggap lucu, ditertawakan, menganggap enteng akan banyak hal. menyepelekan. 

saya? saya pasti berubah. karena tiap hari temen becandaannya trio A (Alya, Aldza, Aldy) mau gamau selera humor udah sampe inti bumi dan tak kembali. karena tiap hari kerjaannya gabut dengerin dosen mau gamau jadi deadliner tiap ngerjain laporan praktikum atau apapun. dan mungkin yang terakhir, saya menjadi lebih skeptis akan banyak hal, peragu, pesimistis. 

mungkin ini yang membuat saya vakum menulis selama beberapa waktu. karena tidak boleh menjadikan tugas sebagai alasan (tugas apaan coba, pergabutan kuliah). katanya untuk menulis kamu harus berani berangan-angan. ya, ketika membayangkan saja tidak berani akan jadi apa nantinya? cuma mengikuti aliran air, yang definitely, air itu mengalir ke bawah. bukan ke atas. lalu apa? 

kadang saya rasa saya butuh sesuatu. bukan yang itu. maksudnya kayak someone that you can count on them. ya, sempat merasa sendirian. bukan sendirian secara harfiah melainkan sendirian secara ya analoginya sih kayak when you need a pair of shoes, you have a lot of them around you. they are nice and awesome but you just need something fit and comfortable. ya, ngerti kan? kadang temen itu kayak sepatu, udah jelek bulukan bau tapi makin lama malah makin terasa nyaman. 

anyway, makin lama makin merasa diri ini kecil sekali guys. what you've done is never enough for yourself but what you feel are pain and agony that makes you stop doing something which actually valuable. kadang semakin kesini, makin merasa "ini bukan gue" karena dikit dikit udah nyerah, dikit dikit udah "apabanget sih ini teh", dikit dikit ngeluh, pokoknya gue jadi pemalesan banget deh. plis jangan ditiru ya hehe. jadi ngerasa "terus sakit sakit sama nangis nangis kemaren tuh buat apa?" dan kembali yang bisa disalahkan hanya diri sendiri wgwg. 

ya, tiap ketemu dosen sebenernya (namanya Pak Danang, baday vongfong, sumpah bapaknya kece abis) selalu diingatkan, harus jadi orang berilmu yang benar benar berilmu, maksudnya aplikatif gitu ilmunya, bermanfaat buat masyarakat. 

"lulus ya kalo bisa 4 tahun. kalo lebih dari 4 tahun bukan apa apa, kalian cuma ngambil jatah kuliah ade ade kalian aja, penerus bangsa. emang ga malu ketika kalian seharusnya menjadi manusia yang bermanfaat malah mengambil hak dan kesempatan orang lain?"

ya emang bapaknya sekali ngomong langsung dasdisdasdusdesdos gitu. menusuk ke dalam jiwa raga dan sukma hati yang terdalam. walaupun yang diajarkan adalah materi tanah-tanah, mineral dan batuan yang liat materinya aja hampir pengen nangis karena jenis batu ada banyak parah haha. 

ya, intinya apa ya. gatau tulisan ini membahas apa. mungkin tentang perubahan. tentang saya yang berubah dan harus segera secepatnya kembali menemukan jalan yang tepat, yang dengan segala alasan-alasan yang ada harusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat saya bergerak (atau malah seharusnya sudah berlari) dengan uas yang sudah di depan mata. 

tentang ya, walaupun terkadang saya merasa sendirian tapi sebenernya engga. ada jutaan orang yang sama sama berjuang untuk mimpinya. walaupun beda mimpi dan beda bentuk perjuangannya, setidaknya hal itu menghubungkan, karena yang sama sama berusaha, merekalah yang dilihat Tuhannya, menjadi sebaik-baiknya makhluk yang berguna, khalifah bumi. 

and people change. either it's their mind, their physical appearance, the way they behave, their sense of humor, the way they treat you, or whatever they are now. who cares? what you have to think is they were your comrades, and they still are. 

and how awful i am, i am who i was. just remind me whether i forgot.  

oh ya, tentang ukuran. tidak semua hal bisa kamu ukur dengan angka kan? mari mencari yang tidak bisa terukur dengan angka karena yang seperti itu biasanya justru lebih besar harganya.

satu lagi, 

baru baca Geography of Bliss dan satu kalimat ini membuat saya berpikir tentang banyak hal. tentang dunia yang tanahnya belum saya pijak, yang udaranya belum pernah saya hirup, yang bahasanya belum pernah saya dengar.

untuk menulis kamu perlu mengalami. jangan hanya menulis tapi juga pahami. 

mari berjanji untuk bertemu beberapa tahun lagi di benua yang berbeda. dengan cerita hebat yang saya yakin kalian cukup hebat untuk mengalaminya. 


wish me luck for the first semester test ya. hehe.  

No comments:

Post a Comment