Thursday, January 29, 2015

Turning Point

"to get is to loose"

katanya gitu. to get is to loose. mendapatkan dengan melepaskan. disini sekarang lagi mau bahas tentang turning point. tentang titik balik. bisa jadi tentang waktu-waktu dimana orang-orang dalam keadaan terbawahnya tapi hal itu malah jadi titik balik. kayak bola basket gitu lah, harus nyentuh tanah dulu untuk bisa terpantul lebih tinggi daripada sebelumnya. bisa jadi juga tentang momen-momen tertentu yang sangat mengubah pola pikir dan cara pandang. 

sebutlah namanya X. anak tunggal, satu-satunya harapan keluarga. dia sebenernya satu angkatan di atas gue cuma ditakdirkan untuk berusaha lebih selama setahun untuk merasakan jerih payahnya. ya, buat dia itu turning pointnya. ketika ditolak semua PTN yang dia pengen. ketika temen-temennya jatuh ke dalam lubang depresi yang lebih dalam dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, dia bertahan. ketika keinginan orang tuanya dan dia tidak sejalan, mengingat dia satu-satunya harapan orang tua dan dia bersikeras dalam pendiriannya. ketika dulunya jarang ketemu Dia, karena saking hopelessnya jadi lebih dekat sama Dia. ga bagus sih sebenernya kayak gitu cuma ya ini sih nyatanya, banyak orang (termasuk gue) yang akan menemukan Nya dalam tangis dan kesedihan. ketika masih harus usaha lebih pada kondisi temen-temennya udah kuliah duluan. itu turning point yang mengubah dia jadi sekarang ini. optimis. punya pendirian dan prinsip sendiri. ga terombang-ambing. 

ada lagi temen gue yang lain. ketika ikut lomba lima kali dan menang cuma sekali. ya, setiap lomba pasti latihannya keras gitu kan. bayangin aja dikali lima. terus empat kali berturut-turut ga menang. gila. udah dijemur dibawah panas matahari, dibentak-bentak, disuruh-suruh ini itu. capek. belom tuntutan orang tua dan sekolah yang macem-macem. keluarga pasti butuh perhatian kan. sebenernya mereka ga minta secara langsung sih, cuma kan pasti ada rasa bersalah gara-gara pergi pagi pulang malam dengan baju dan muka udah kucel kayak lap pel terus di rumah cuma numpang tidur doang. tuntutan sekolah yang minta nilai perfecto, ga pake dispen-dispen. hal itu akan membuat kita berpikir. tentang banyak hal. iya. banyak hal.  

ada lagi. orang yang sering gue temuin kalo lagi ke suatu tempat. dia sekarang udah sukses. banget. tiap ditanya lagi dimana jawabnya breakfast di Singapura, lunch di Thailand. agak rese emang orangnya soalnya riya banget amit-amit. tapi gue tau kok dia ga bermaksud riya hahaha. dulu orangnya bandel banget. bisa urutan dua dari terakhir lah di kelasnya. begajulan ga pernah belajar. sukanya main terus. sampai pada akhirnya salah satu dari orang tuanya meninggal. iya, itu turning pointnya. habis itu dia belajar keras akhirnya masuk salah satu sekolah akademi milik negara (atau beasiswa gitu gue lupa). dan alhamdulillahnya udah sukses sekarang. tiap dia cerita ini bikin gue mikir, apa harus, orang yang gue sayang diambil dulu baru usahanya jadi mati-matian? pikiran itu jadi cambuk sendiri buat gue. engga, tidak perlu mengambil yang saya sayangi dulu untuk menunjukkan bahwa saya harus berdiri sendiri. saya cukup tahu tentang itu. cukup. 

banyak sih kalo diceritain semua cerita yang pernah gue denger dari orang-orang di sekitar gue. kalo buat gue, turning point itu ada banyak. turning point itu bukan tipe momen yang sekali seumur hidup kan? 

ada saat dimana gue tahu, bahwa menyakiti orang lain itu bisa dilakukan secara ga sadar. 
ada saat dimana gue tahu, bahwa doa itu bisa dijawab dalam berbagai bentuk. 
ada saat dimana gue tahu dan baru sadar, kalo gue manusia. bukan robot. 
ada saat dimana gue tahu, bahwa  punya mimpi itu penting. sepenting punya tujuan kalo naik angkot.
ada saat dimana gue tahu, bahwa hidup gue bukan cuma punya gue, tapi juga punya orang lain.   
ada saat dimana gue tahu, bahwa setiap pilihan yang dibuat mengandung tanggung jawab.
ada saat dimana gue tahu, bahwa ga semua orang memiliki persepsi dan pikiran yang sama tentang suatu hal. 

ada saat dimana gue tahu, bahwa setiap usaha yang gue lakukan ga boleh sia-sia. 
apalagi usaha orang lain. 
ada.

dan banyak lagi. 

gue masih belajar. ya, setiap saat dalam hidup adalah belajar bukan? gue "ditempa" dari smp sampe sma, itu belajar. gue harus nyeimbangin waktu belajar, main, sama organisasi itu juga belajar. karena kehidupan adalah heterogen. kita gabisa milih orang dan lingkungan yang akan kita ketemui nanti. entah harus kerjasama sama kita atau sekedar ketemu, kita gabisa milih. entah kita yang harus berubah atau merubah. ya, dibesarkan dan tumbuh di lingkungan yang hebat lalu "dipaksa" melanjutkan hidup di tempat yang 180 derajat berbeda bukannya tanpa tujuan bukan? turning point gue bisa jadi ketika gue ketemu orang-orang hebat di sekitar gue. bisa jadi ketika gue harus panas-panasan tiga bulan dengan karakter manusia yang berbeda-beda dan ga semuanya sejalan sama gue. bisa jadi ketika gue lagi nangis cemen di toilet sebuah mall garagara ga lolos SNMPTN. bisa jadi ketika gue jatoh dari sepeda lalu tangan kanan gue gabisa diangkat. bisa jadi ketika gue adu pendapat dengan kedua orang tua gue pas mau nentuin jurusan kuliah. bisa jadi ketika gue se-desperate itu di rantau, pengen pulang aja rasanya cuma ya kan ini intinya apa yang gue pelajarin waktu dulu. bertahan. dengan prinsip-prinsip dan idealisme yang ada. 

mungkin masih banyak lagi turning point yang bahkan ga gue sadari. mungkin kalian juga (kalo ada yang baca post ini) punya cerita tentang turning point kalian sendiri. ya, ceritanya pasti se-worth it itu kok buat ditulis. jangan mengira kalian mengenal semua orang, coba tanya diri sendiri, apakah sekenal itu sama orang tua sendiri? apakah sekenal itu sama ade atau kakak sendiri? apakah sekenal itu sama comrade sendiri? manusia cenderung menyembunyikan. tugas kita bukan mengetahui apa yang disembunyikan, tapi ...... tapi gue juga gatau hehe

terakhir, 

apakah sekenal itu dengan Dia Yang Menciptakan? 




turning point. 

No comments:

Post a Comment