Monday, April 20, 2015

Ada

Aku menangis terduduk layaknya anak kecil yang kakinya terantuk batu
Terduduk diam di tengah jalan sambil memeluk lututnya
Bedanya tidak ada tangan-tangan hangat membangunkanku
Memberikan pelukan hangat sambil berkata, tidak apa-apa, kamu hanya jatuh, bisa berdiri lagi kan?

Sekarang aku sendirian
Kalau jatuh, seharusnya bisa berdiri sendiri lagi kan?
Tidak perlu mencari-cari orang lain lagi

Aku tergugu diam di tengah jalan
Menggigil di tengah kesunyian
Berpikir keras, semakin kesini aku yang pengecut semakin menjadi-jadi  

Seringkali aku berpikir, aku waktu kecil jauh lebih berani daripada ini
Tidak takut jatuh, tidak takut sakit
Mengapa semakin kesini malah menjadi seperti ini?
Takut akan banyak hal yang belum tentu nyata dan belum benar adanya
Apa karena semakin kita tumbuh kita semakin tahu banyak hal sehingga harus berhati-hati
Atau hanya karena membutuhkan rasa aman karena semakin besar kita semakin sendiri?

Main aman? 
Terdengar membosankan namun pada akhirnya aku dikalahkan oleh ketakutan

Aku mengigil sendiri di tengah kesunyian
Tidak ada orang
Dingin

Hanya ada prinsip yang dapat kugigit erat-erat
Tanda aku masih ada dan punya cara untuk mencapai tujuan

Senja di bahuku, malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan, ku terus melangkah 
Kuingin ku tahu, engkau ada   

Tangisku sudah habis ditelan senja 
Aku terpaku, menatap matahari yang perlahan menghilang ditelan malam 
Sudah waktunya, waktunya melanjutkan malam dengan sisa-sisa perjuangan 
Sedetik kemudian aku sadar, aku tidak pernah dibiarkan benar-benar sendiri 

Kalian ada. 

Kugigit kembali segala prinsip yang ada. 
Tidak sendiri. 
Kugigit segala prinsip yang ada lebih erat. 

Mari bertemu di penghujung jalan
Untuk sekadar membuktikan 
Kita ada. 

Saturday, April 11, 2015

Cerita Malam

Selamat bertemu di pergantian hari
Di batas antara malam dan pagi (atau sudah pagi)
Waktu yang baik untuk menemui Yang Maha Baik

Bismillahirrahmanirrahim

Maaf menunggu terlalu lama
Namun ternyata masih saja Kau mau mendengar keluh kesah hambaMu yang terlalu lama meninggalkan
Hamba tahu bahwa sebaiknya doa dirahasiakan namun hamba merasa semua orang harus tahu agar jika tiba-tiba Engkau memanggil hamba ada yang menyampaikan
Karena menyampaikan ini di depan mereka terlalu sulit jika tanpa air mata
Dan Kau tahu bahwa hamba paling tidak bisa melihat mereka marah terlebih menangis
Maka hancurlah sudah seluruh dunia hamba dalam satu tetesan air mata  

Jadi, tolong beritahu Ayah
Beritahu Ayah untuk memaafkan anaknya

Memaafkan anaknya yang tidak pernah hafal lirik lagu kesukaan Ayah
Memaafkan anaknya yang cuma bisa menyanyikan refrain Sweet Child O Mine, lagu kesukaan Ayah
Memaafkan anaknya yang sekarang absen nonton MotoGP dan tidak tahu perkembangannya
Memaafkan anaknya yang tidak pernah memberikan hadiah ulang tahun apapun selama ini padahal kalau anaknya ulang tahun selalu diberi macam-macam
Memaafkan anaknya yang tidak bisa main gitar
Memaafkan anaknya yang belum mahir naik motor dan belum bisa nyetir mobil
Memaafkan anaknya yang (sampai sekarang) masih suka pulang malam
Memaafkan anaknya yang belum sempurna agama dan menjaga hijabnya apalagi hatinya
Memaafkan anaknya yang masih boros di perantauan
Memaafkan anaknya yang masih suka malas belajar padahal Ayah sudah setengah mati sulitnya mencari nafkah

Beritahu Ibu juga untuk memaafkan anaknya

Memaafkan anaknya yang tidak bisa masak
Memaafkan anaknya yang belum bisa mengantar Ibu kemana-mana (terlebih belanja)
Memaafkan anaknya yang kalau ditanya mau beli apa cuma jawab “terserah mama”
Memaafkan anaknya yang selera fashionnya rendah
Memaafkan anaknya yang masih suka malas beres–beres rumah dan membuat pembukuan bulanan
Memaafkan anaknya yang sering tidak menaati perintahnya
Memaafkan anaknya yang tidak peka terhadap keadaan keluarga sendiri
Memaafkan anaknya yang lebih sering di luar daripada di rumah
Memaafkan anaknya yang suka telat mengabari dan bertingkah sok sibuk

Tolong beritahu Adik untuk memaafkan Kakaknya yang super duper nyebelin dan kurang memeperhatikan

Ya, tolong maafkan semuanya.

Hidup itu metamorfosa kan? Dulu digendong ke kamar sama Ayah kalau ketiduran di depan TV, sekarang sudah diantar ke stasiun untuk merantau, pergi kuliah. Dulu sebelum tidur selalu dibacakan dongeng pengantar tidur oleh Ibu, sekarang baca sendiri lalu ketiduran. Dulu kalau makan selalu ada yang menyiapkan, bekal, segala macam. Sekarang beli sendiri, makan sama teman. Dulu setiap sore minum teh di meja makan, malamnya duduk melingkar di meja makan untuk makan malam. Sekarang, maghrib pergi beli makan, malamnya mengerjakan laporan hingga larut malam. Dulu kalau pulang malam ada yang menjemput, Ayah, sekarang pulang sendirian naik sepeda.

Dulu, iya itu dulu. Kita selalu terikat dengan masa lalu namun tidak baik bukan meratapinya, merinduinya hingga sampai ke tulang-tulang. Mengeluh betapa waktu tidak bisa diulang dan mengapa kita harus tumbuh besar. Mengapa dulu tidak bisa melakukan dengan lebih baik. Dulu. Selalu dulu.

Kata Ibu jadilah seorang yang berkarya. Ya, pasti Ma, insyaAllah. Jadi perempuan baik yang terhormat. Jangan percaya dengan sembarang lelaki. Jadi Ibu yang lebih hebat lagi.  Iya Ma. Semoga bisa seperti Mama yang dulu selalu mebacakan cerita sebelum tidur, mengajarkan membaca, berhitung, dan mengaji. Semoga. 

Kata Ayah belajar yang baik, sekolah yang tinggi biar bisa berguna nanti. Ayah tidak pernah bilang apapun tapi semoga saya mengerti semua yang dikatakan maupun yang tidak dikatakan. Sudah hampir sembilan belas namun belum bisa memberikan apapun. Maaf, belum bisa jadi sulung yang baik dan membanggakan. Sungguh maafkan.    
Karena mereka sungguh saya sekarang sadar akan arti sayang. Kadang tidak pernah terucapkan, tapi kalau mau tahu itu selalu tercerminkan dalam perbuatan dari hati yang terdalam.

Jangan takut anakmu sendirian dan kesepian. Saya punya banyak teman walaupun kebanyakan dari mereka berkelakuan aneh-aneh. Mereka baik dan akan menjaga saya dari jarak jauh maupun dekat. Baik dengan doa maupun perbuatan. 

Semoga Engkau berkenan menjadikan hamba penyebab mereka masuk surga, setidaknya tidak menjadi penghambat dalam jalan mereka menuju surga.




Yogyakarta, April 2015