Saturday, May 23, 2015

KKL

hai

malam minggu, tadi dikirimin stiker hai pocong sama papa. papa beneran. gatau apa motivasinya cuma lucu aja hehe 

mau cerita jadi kemaren itu abis KKL, iya kuliah kerja lapangan. seru kan? seru dong. masa engga sih. yah walaupun kulit terbakar, bau ketek sana sini, ngantri mandi dari jam 3 pagi. makan nasi campur pasir, gapapa lah ya namanya juga lapangan kan 

perjalanan dimulai dari Fakultas yang hari itu hectic banget karena semua angkatan pergi lapangan. namanya bis dimana mana ya dimana mana. carrier aka tas gunung sana sini, orang-orang lari-lari bawa peralatan lapangan plus segepok checklist (atau lebih tepat jika disebut modul karena terlampau tebal). anak-anak Pembangunan Wilayah 2012 (atau 2013) bawanya koper karena urusan doi emang ngurusin mall dsb. jurusan gue sih ya tipikal anak alam jadi gimana ya, ga akan jauh jauh sama gunung, sawah, kalo engga pantai. yha gitu mau gimana lagi. 

foto before KKL sama geng cuba. kalo kalian bilang dua lelaki itu ganteng itu hanyalah tipu tipu belaka
KKL gimana rasanya? seru. seru abis kecuali part mandi karena airnya dikit parah padahal seharian gue berkelana di gumuk pasir ala ala musafir gurun gitu. walaupun pake kerudung tetep aja pasir ada yang masuk masuk gitu. rekor terhebat gue adalah mandi plus keramas hanya menggunakan setengah ember air tawar. hebat khaaaan. tiap hari dikasih makan udah kayak hewan ternak mau dipotong soalnya banyak banget. bangun jam 3, mandi, terus kedinginan jadinya di kamar ngumpul di pojokan pake sleeping bag sama mukena masing-masing biar hangat. kalo kata undang-undang sih kita sedang berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan pendapat padahal aslinya mah udah kayak manusia kepompong lagi ngegosip wkwk. jadi kenal orang lain lebih deket sih, yang tadinya gue kira pendiem ternyata garing abis dan suka spongebob. ada cowok yang kalo ketawa ngakak pun mulutnya ditutupin, gue kalah jauh anggunnya dibanding doi. shifa temen sma gue aja kalah, gimana gue. 

tiap stopsite harus dikasih deskripsi, digambar pula. gue gabisa deskripsi, apalagi gambar. yaudah gapapa seadanya, untung dosen pembimbingnya pengertian. temen gue ada yang saking gabisa gambarnya, dia mau gambar saluran air malah dikira ular tangga sama dosen. kan sedih. gue harus naik gunung, masuk kandang sapi, wawancara yang punya sapi, wawancara sapinya (ga sih kalo yang ini), liatin formasi batuan. difoto, digambar, ditulis, terus sedetik kemudian gue lupa apa yang gue sudah lakukan. abis itu gue ke pantai. pengang pegang tanah sama pasir. bedain struktur dan tekstur keduanya, cari rip current, berenang kesana cuma buat memastikan kalo gelombang disana mematikan (ga gini sih), ngukur kecepatan angin, ngukur kecepatan gelombang, mereka reka gimana itu pantai bisa terbentuk.  ya pokoknya begitu berulang ulang. ribet tapi seru kok ehe. pernah ga kalian ngeliat dosen ngejelasin pake ngegambar gambar di pasir? nah dosen gue gitu kemaren. gambar gambar diagram di pasir. di gumuk pasir gue berasa di texas loh (padahal gue gatau texas kayak apa) ah pokoknya berasa sekolah alam banget lah seru wkwk

here are some pics!


kelompok C2 yeay!

pasir, pasir everywhere

which path will you follow?

checklistku sayang checklistku malang 
texas ala ala

harus wawancara di bawah tebing banget

yha gini kalo di lapangan 

wawancara hayati yang dihanyutkan di rawa rawa

sapi yang gue wawancara

view dari atas pokoknya keren bangetlah

closing smansaday di gunungapi purba. udah gunung api, purba pula.

biar ga sampis, ada satu kalimat yang gue ambil dari buku Geography of Bliss 

"Perjalanan itu bersifat pribadi.
Kalaupun aku berjalan bersamamu, 
perjalananku bukanlah perjalananmu"
-Paul Theroux


mari bersenang-senang sebentar sebelum responsi, laporan, dan ujian datang lagi. 
sampai bertemu di belahan bumi yang lain! 

Saturday, May 16, 2015

sembilan belas

Halo

Nama gue Tania
Umur gue sembilan belas tahun
Lebih dikit
Iya, sembilan belas tahun lebih dikit

Tua ya

Sedih kan udah tua
Sembilan belas tahun di dunia udah ngapain aja malah kebanyakan sampisnya

Terima kasih untuk semua yang mengucapkan
Berarti banyak kok, gue tau kalian semua peduli sama gue yang tambah sampis ini hahaha
Love you all guys

Especially mom, dad, and my little sister which sent me their greeting cards from 600 kms away
Bikin beler berjam-jam huhuhu baru bisa pulang akhir juni padahal. Sedih kan.

Sudah besar, sudah bisa ambil keputusan sendiri
Sudah besar, harus mandiri dan bisa jaga diri
Sudah besar, tahu arah hidup sendiri
Sudah besar, tahu cara menghargai yang dimiliki

Sudah besar, harus tahu besarnya mencintai mati dibandingkan mencintai hidup

Kemarin, 2 Mei 2015 sepupu Tania pergi
Setelah perjuangannya melawan sakit jantung selama hidupnya
Rasanya sampe sekarang badan masih kayak partikel debu
Masih ga percaya kalau sudah ditinggal pergi

We can’t beat God at His own game, can we?
Especially on death, what can we do?
You surely been that hurt
Then you couldn’t hang on anymore
He called you, said that your time was over

And what am I supposed to do?
Being mad at Him because He called you?
Or being mad at me because all the time I spent with you were just a trash?
Or being mad at myself because I wasn’t there?
Tell me what am I supposed to do?

Sembilan belas tahun kurang sedikit dan Tania belajar tentang kematian

That loosing could be that hurt
Merelakan tidak semudah itu
That death could come in everytime with everyone
Dunia tidak seindah itu
That love doesn’t mean owning him/her for the rest of your life
Rasa sayang dan cinta tidak sedangkal itu

I know we‘re living in busy world as busy people (or just act as busy people)
Just spend a little time to say thanks and love to your family and people you love and respect
Ga sesusah itu ternyata buat kirim sticker hugs ke orang tua via line, tanya kabar mereka 
Mengirimkan doa di sepertiga malam kita juga ga sesusah belasan tahun mereka membesarkan kita 

Kita ini titipan, entah untuk siapa, terutama kedua orangtua kita  
Kita ini dititipi, dipercaya untuk menjaga 


"Tania mau kado apa?"
"actually , I feel so honoured to be asked like that, to be cared that much, to be greeted so great. so thank you" 


"but books or writes would be great. HAHAHAHA. no, just kidding." 


Sudah sembilan belas tahun lebih sedikit.
Apa yang sudah saya lakukan?

Dan apa yang akan saya lakukan? 

Friday, May 1, 2015

fungsi perjuangan

Hai, kalian apa kabar? Gue mau cerita sedikit boleh ya (padahal banyak). Ini yang paling akhir terjadi di kampus gue hehe

X: Tan, bentar lagi SBMPTN
T: eh, iya? Lah emang terus kenapa?
X: kamu... nyaman disini?
T: em nyaman atau ga nyaman harus tetep dijalanin kan? Ehe
X: aku... merasa ga cocok disini. Kamu ga capek praktikum terus?
T: ya mau gimana lagi, ga yakin kalau mencoba lagi akan mendapat tempat yang lebih tepat hehe

Sekilas itu percakapan gue sama temen gue di selasar kampus. Udah maghrib, udah pada lelah, lalu keluarlah percakapan-percakapan absurd yang sesungguhnya jarang sekali gue temukan disini. Iya, ngobrolin semacam mimpi dan perjuangan itu kayak sesuatu yang sangat akan jarang ditemukan di tempat dimana gue berada sekarang. Kebanyakan orang lebih suka mengikuti aturan, berjalan kemana kebanyakan orang akan berjalan. Yah itu baik sih, tapi gimana ya, bagi gue yang dari dulu diajarkan untuk “berontak”, ya agak gimana gitu hehe.

Back to our conversations,

X: kebanyakan orang akan bilang kalau setahun yang aku habiskan disini itu sia-sia
T: ya.... terus?
X: ga ada yang sia-sia tan, ga ada. Setahun yang aku habiskan disini itu bermanfaat kok. Ketemu temen-temen, dosen-dosen hebat, profesor... Aku cuma merasa mungkin aku akan lebih baik ketika berada di tempat lain
T: iya sih, tapi inget dulu perjuangannya masuk sininya dulu gimana....
X: oh aku ngerti, kamu pasti bukan anak undangan ya?
T: iya hehe. Untuk kesini aku harus ketar-ketir ngejar sana sini. Ikutan ujian sana sini. Sakit, susah, lelah. Lebay sih wkwk. Memang pada akhirnya terkadang kufur, belum bisa bersyukur untuk telah ditempatkan disini, tapi gimana ya, Kasian orang tua juga sih gimana dong hehe. Masih untung  ditempatin disini, bukan harus menjalani satu tahun yang berat kayak beberapa temen hehe
X: aku yatim piatu tan.
T: (i don’t know how to react)
X: aku juga masuk lewat jalur undangan.
T: ho....
X: kamu punya perjuangan tan, itu yang bikin beda. Kamu berada disini itu lewat perjalanan yang tidak semudah yang aku jalani. Wajar kalau kamu mikir-mikir dulu pas aku tanya. Sekarang aku tanya mimpi kamu apa?
T: em, I’m not sure. Natgeo journalist? Graphic designer? Pengusaha resort? Hahaha gatau sumpah jadi ngambang gini
X: aku punya impian di tempat lain tan. Wajar kan kalau aku mau memperjuangkan impian aku?
T: wajar. Seratus persen wajar.
X: ga salah kan kalo aku mau nyoba?
T: engga
X: aku pengen berjuang dulu tan. Biar punya cerita. Biar ada yang bisa dipegang kalo lagi jenuh gini. Biar ada susah yang bisa diinget pas lagi ngerasa ga cocok gini. Bukan impian namanya kalo ga diperjuangkan dan dimenangkan kan?
T: eh iya (tapi inget juga kalo hidup itu perjuangan, bukan pemenangan)

Gue jadi mikir banyak hal. Tentang pentingnya suatu perjuangan. Kita butuh sakit, ya merasa sakit dan tertekan, kita butuh itu. Capek ya berjuang? Gue tanya, perjuangan mana yang rasanya enak seratus persen semacam tidur cantik ala ala sleeping beauty terus bangun-bangun udah ada tumpukan duit tinggal dihambur–hamburin hedon aja, ga ada kan? Perjuangan mana yang lu tinggal tidur ala ala kebo terus bangun-bangun semua laporan terselesaikan dan mendapat nilai A+++ dari asisten praktikum “tercinta”, ga ada kan? Semua butuh proses yang kadang sakit, capek, tapi ya mau gamau harus bisa dijalanin (dan kalo bisa dibawa asik wkwk)

Kalo kata gue peran perjuangan bakal kerasa ketika sedang ada di titik terbawah, ketika lagi susah. Dia akan jadi pengingat, pegangan erat, dan panduan bagaimana kita menjalani perjuangan yang dulu. Bagaimana hebatnya kita bisa menjalani proses yang dulu. Bisa tahan akan sakit dan lelahnya. Lalu akan muncul kata-kata di otak semacam “kok sekarang gabisa, cupu amat udah nyerah”. Dia akan menjadi pengingat akan alasan-alasan kita mau berlelah-lelah menjalani prosesnya. Dia akan menjadi pengingat siapa saja yang ikut terseret dalam perjuangan kita. Yang ikut serta mau merasakan sakitnya mau berlelah-lelah bersama padahal aslinya ga perlu ikut-ikutan. Seenggaknya kan sekarang jadi harus bertahan untuk orang-orang yang dulu (dan sampai sekarang) sudah berkorban.

Ya, berjuang itu perlu. Sakit itu perlu. Dan tentang menang? Tidak semua perang bisa dimenangkan bukan? Tapi semua perang butuh perjuangan. Seenggaknya kalaupun gagal satu kemenangan sudah di tangan. Menang melawan diri sendiri. Rasanya kayak......... amazing lah pokoknya tidak dapat dideskripsikan. Harus ngerasain sendiri hahaha

Beberapa orang bilang,

Menang itu bisa dideskripsikan sebagai kening yang pada akhirnya menempel diatas sajadah.

Sesederhana itu.

Ya, mungkin seperti itu rasanya. Pada akhirnya kamu sampai pada titik dimana kamu akan jujur kepada dirimu sendiri dan Tuhanmu. Tentang dirimu, tentang duniamu yang terlampau jauh. Tentang kamu yang terlalu sering menerka, terlalu sering mengeluh, tapi tidak pernah berusaha. Terlalu sering bilang takut tanpa terlebih dahulu mencoba. Terlalu sering bilang orang begini begitu tanpa terlebih dahulu berkaca.


Berjuang.
Jangan sendirian.
Bawa beberapa orang di sekitarmu.
Oh ya, yang paling penting.
Bawa Dia bersamamu.