Friday, May 1, 2015

fungsi perjuangan

Hai, kalian apa kabar? Gue mau cerita sedikit boleh ya (padahal banyak). Ini yang paling akhir terjadi di kampus gue hehe

X: Tan, bentar lagi SBMPTN
T: eh, iya? Lah emang terus kenapa?
X: kamu... nyaman disini?
T: em nyaman atau ga nyaman harus tetep dijalanin kan? Ehe
X: aku... merasa ga cocok disini. Kamu ga capek praktikum terus?
T: ya mau gimana lagi, ga yakin kalau mencoba lagi akan mendapat tempat yang lebih tepat hehe

Sekilas itu percakapan gue sama temen gue di selasar kampus. Udah maghrib, udah pada lelah, lalu keluarlah percakapan-percakapan absurd yang sesungguhnya jarang sekali gue temukan disini. Iya, ngobrolin semacam mimpi dan perjuangan itu kayak sesuatu yang sangat akan jarang ditemukan di tempat dimana gue berada sekarang. Kebanyakan orang lebih suka mengikuti aturan, berjalan kemana kebanyakan orang akan berjalan. Yah itu baik sih, tapi gimana ya, bagi gue yang dari dulu diajarkan untuk “berontak”, ya agak gimana gitu hehe.

Back to our conversations,

X: kebanyakan orang akan bilang kalau setahun yang aku habiskan disini itu sia-sia
T: ya.... terus?
X: ga ada yang sia-sia tan, ga ada. Setahun yang aku habiskan disini itu bermanfaat kok. Ketemu temen-temen, dosen-dosen hebat, profesor... Aku cuma merasa mungkin aku akan lebih baik ketika berada di tempat lain
T: iya sih, tapi inget dulu perjuangannya masuk sininya dulu gimana....
X: oh aku ngerti, kamu pasti bukan anak undangan ya?
T: iya hehe. Untuk kesini aku harus ketar-ketir ngejar sana sini. Ikutan ujian sana sini. Sakit, susah, lelah. Lebay sih wkwk. Memang pada akhirnya terkadang kufur, belum bisa bersyukur untuk telah ditempatkan disini, tapi gimana ya, Kasian orang tua juga sih gimana dong hehe. Masih untung  ditempatin disini, bukan harus menjalani satu tahun yang berat kayak beberapa temen hehe
X: aku yatim piatu tan.
T: (i don’t know how to react)
X: aku juga masuk lewat jalur undangan.
T: ho....
X: kamu punya perjuangan tan, itu yang bikin beda. Kamu berada disini itu lewat perjalanan yang tidak semudah yang aku jalani. Wajar kalau kamu mikir-mikir dulu pas aku tanya. Sekarang aku tanya mimpi kamu apa?
T: em, I’m not sure. Natgeo journalist? Graphic designer? Pengusaha resort? Hahaha gatau sumpah jadi ngambang gini
X: aku punya impian di tempat lain tan. Wajar kan kalau aku mau memperjuangkan impian aku?
T: wajar. Seratus persen wajar.
X: ga salah kan kalo aku mau nyoba?
T: engga
X: aku pengen berjuang dulu tan. Biar punya cerita. Biar ada yang bisa dipegang kalo lagi jenuh gini. Biar ada susah yang bisa diinget pas lagi ngerasa ga cocok gini. Bukan impian namanya kalo ga diperjuangkan dan dimenangkan kan?
T: eh iya (tapi inget juga kalo hidup itu perjuangan, bukan pemenangan)

Gue jadi mikir banyak hal. Tentang pentingnya suatu perjuangan. Kita butuh sakit, ya merasa sakit dan tertekan, kita butuh itu. Capek ya berjuang? Gue tanya, perjuangan mana yang rasanya enak seratus persen semacam tidur cantik ala ala sleeping beauty terus bangun-bangun udah ada tumpukan duit tinggal dihambur–hamburin hedon aja, ga ada kan? Perjuangan mana yang lu tinggal tidur ala ala kebo terus bangun-bangun semua laporan terselesaikan dan mendapat nilai A+++ dari asisten praktikum “tercinta”, ga ada kan? Semua butuh proses yang kadang sakit, capek, tapi ya mau gamau harus bisa dijalanin (dan kalo bisa dibawa asik wkwk)

Kalo kata gue peran perjuangan bakal kerasa ketika sedang ada di titik terbawah, ketika lagi susah. Dia akan jadi pengingat, pegangan erat, dan panduan bagaimana kita menjalani perjuangan yang dulu. Bagaimana hebatnya kita bisa menjalani proses yang dulu. Bisa tahan akan sakit dan lelahnya. Lalu akan muncul kata-kata di otak semacam “kok sekarang gabisa, cupu amat udah nyerah”. Dia akan menjadi pengingat akan alasan-alasan kita mau berlelah-lelah menjalani prosesnya. Dia akan menjadi pengingat siapa saja yang ikut terseret dalam perjuangan kita. Yang ikut serta mau merasakan sakitnya mau berlelah-lelah bersama padahal aslinya ga perlu ikut-ikutan. Seenggaknya kan sekarang jadi harus bertahan untuk orang-orang yang dulu (dan sampai sekarang) sudah berkorban.

Ya, berjuang itu perlu. Sakit itu perlu. Dan tentang menang? Tidak semua perang bisa dimenangkan bukan? Tapi semua perang butuh perjuangan. Seenggaknya kalaupun gagal satu kemenangan sudah di tangan. Menang melawan diri sendiri. Rasanya kayak......... amazing lah pokoknya tidak dapat dideskripsikan. Harus ngerasain sendiri hahaha

Beberapa orang bilang,

Menang itu bisa dideskripsikan sebagai kening yang pada akhirnya menempel diatas sajadah.

Sesederhana itu.

Ya, mungkin seperti itu rasanya. Pada akhirnya kamu sampai pada titik dimana kamu akan jujur kepada dirimu sendiri dan Tuhanmu. Tentang dirimu, tentang duniamu yang terlampau jauh. Tentang kamu yang terlalu sering menerka, terlalu sering mengeluh, tapi tidak pernah berusaha. Terlalu sering bilang takut tanpa terlebih dahulu mencoba. Terlalu sering bilang orang begini begitu tanpa terlebih dahulu berkaca.


Berjuang.
Jangan sendirian.
Bawa beberapa orang di sekitarmu.
Oh ya, yang paling penting.
Bawa Dia bersamamu.



No comments:

Post a Comment